Kamis, 21 Juli 2011
Jumat, 15 April 2011
persepsi ujaran
. PERSEPSI TERHADAP UJARAN
Ujaran adalah suara murni (tuturan), langsung, dari sosok yang berbicara.
Jadi ujaran itu adalah sesuatu baik berupa kata,kalimat,gagasan, yang keluar dari mulut manusia yang mempunyai arti. Dengan adanya ujaran ini maka akan muncullah makna sintaksis,semantik,dan pragmatik.
Persepsi terhadap ujaran bukanlah suatu hal yang mudah dilaku-kan oleh manusia kerana ujaran adalah suatu aktivitas verbal yang meluncur tanpa ada batas waktu yang jelas antara satu perkataan dengan perkataan lain. Perhatikan tiga ujaran berikut: (a) Bukan angka, (b) Buka nangka, dan (c) Bukan nangka. Mes-kipun ketiga ujaran ini berbeza maknanya satu dari yang lain, dalam pengucapannya ketiga bentuk ujaran ini boleh sama - [bukanaΝka].
Di samping itu, suatu bunyi juga tidak diucapkan secara persis sama tiap kali bunyi itu muncul. Bagaimana suatu bunyi diucapkan dipengaruhi oleh lingkungan di mana bunyi itu berada. Bunyi [b] pada perkataan buru, misalnya, tidak persis sama dengan bunyi [b] pada perkataan biru. Pada perkataan buru bunyi /b/ dipengaruhi oleh bunyi /u/ yang mengikutinya sehingga sedikit banyak ada unsur pembundaran bibir dalam pembuatan bunyi ini. Sebaliknya, bunyi yang sama ini akan diucapkan dengan bibir yang melebar pada perkataan biru kerana bunyi /i/ adalah bunyi vokal depan dengan bibir melebar.
Namun demikian, manusia tetap saja dapat mempersepsi bunyi-bunyi bahasanya dengan baik. Tentu saja persepsi seperti ini dilakukan melalui tahap-tahap tertentu. Pada dasarnya ada tiga tahap dalam pemrosesan persepsi bunyi (Clark & Clark, 1977):
1. Tahap auditori: Pada tahap ini manusia menerima ujaran sepotong demi sepotong. Ujaran ini kemudian ditanggapi dari segi fitur akustiknya. Konsep-konsep seperti titik artikulasi, cara artikulasi, fitur distingtif, dan VOT sangat bermanfaat di sini kerana ihwal seperti inilah yang memisahkan satu bunyi dari bunyi yang lain. Bunyi-bunyi dalam ujaran itu kita simpan dalam memori auditori kita.
2. Tahap fonetik: Bunyi-bunyi itu kemudian kita identi-fikasi. Dalam proses mental kita, kita lihat, misalnya, apakah bunyi tersebut [+konsonantal], [+vois], [+nasal], dst. Begitu pula lingkungan bunyi itu: apakah bunyi tadi diikuti oleh vokal atau oleh konsonan. Kalau oleh vokal, vokal macam apa - vokal depan, vokal belakang, vokal tinggi, vokal rendah, dsb. Seandainya ujaran itu adalah Bukan nangka, maka mental kita menganalisis bunyi /b/ terlebih dahulu dan menentukan bunyi apa yang kita dengar itu dengan memperhatikan hal-hal seperti titik artikulasi, cara artikulasi, dan fitur distingtifnya. Kemudian VOT-nya juga diperhatikan kerana VOT inilah yang akan menentukan kapan getaran pada pita suara itu terjadi.
Segmen-segmen bunyi ini kemudian kita simpan di memori fonetik. Perbezaan antara memori auditori dengan memori fonetik adalah bahawa pada memori audi-tori semua variasi alofonik yang ada pada bunyi itu kita simpan sedangkan pada memori fonetik hanya fitur-fitur yang sifatnya fonemik saja. Misalnya, bila kita mende-ngar bunyi [b] dari perkataan buntu maka yang kita simpan pada memori auditori bukan fonem /b/ dan bukan hanya titik artikulasi, cara artikulasi, dan fitur-fitur distingtif-nya saja tetapi juga pengaruh bunyi /u/ yang mengiku-tinya. Dengan demikian maka [b] ini sedikit banyak diikuti oleh bundaran bibir (lip-rounding). Pada memori fonetik, hal-hal seperti ini sudah tidak diperlukan lagi kerana begitu kita tangkap bunyi itu sebagai bunyi /b/ maka detailnya sudah tidak signifikan lagi. Ertinya, apakah /b/ itu diikuti oleh bundaran bibir atau tidak, tetap saja bunyi itu adalah bunyi /b/.
Analisis mental yang lain adalah untuk melihat bagaimana bunyi-bunyi itu diurutkan kerana urutan bunyi inilah yang nantinya menentukan perkataan itu perkataan apa. Bunyi /a/, /k/, dan /n/ boleh membentuk perkataan yang berbe-da bila urutannya berbeza. Bila /k/ didengar terlebih dahulu, kemudian /a/ dan /n/ maka akan terdengarlah bunyi /kan/; bila /n/ yang lebih dahulu, maka terdengarlah bunyi /nak/.
3. Tahap fonologis: Pada tahap ini mental kita menerapkan aturan fonologis pada deretan bunyi yang kita dengar untuk menentukan apakah bunyi-bunyi tadi sudah me-ngikuti aturan fonotaktik yang pada bahasa kita. Untuk bahasa Inggeris , bunyi /��/ tidak mungkin memulai suatu suku kata. Kerana itu, penutur Inggeris pasti tidak akan menggabungkannya dengan suatu vokal. Seandainya ada urutan bunyi ini dengan bunyi yang berikutnya, dia pasti akan menempatkan bunyi ini dengan bunyi di mukanya, bukan di belakangnya. Dengan demikian deretan bunyi /b/, /��/, /��/, /i/, dan /s/ pasti akan dipersepsi sebagai beng dan is, tidak mungkin be dan ngis.
ALAT-ALAT DAN BUNYI UJARAN.
Sumber dari bunyi adalah paru-paru. Paru-paru kita berkembang dan berkempis untuk menyedotkan dan mengeluarkan udara.Melalui saluran ditenggorokan, udara ini keluar melalui mulut atau hidung.Dalam perjalanan melewati mulut dan hidung ini ada kalanya udara itu dibendung oleh salah satu bagian dari mulut kita sebelum kemudian dilepaskan.Hasil bendungan udara inilah yang menghasilkan bunyi.
Alat-alat dan bunyi ujaran, adalah:
0.Bibir.
Bibir atas dan bibir bawah.kedua bibir ini dapat dirapatkan untuk membentuk bunyi yang dinamakan bilabial yang artinya dua bibir bertemu.
Contoh: bunyi P, B, dan M.
1.Gigi.
Untuk ujaran hanya gigi atas lah yang mempunyai peran.Gigi ini dapat berlekatan dengan bibir bawah untuk membentuk bunyi yang dinamakan dengan labiodental.
Contoh: untuk bunyi F dan V.
Gigi juga dapat berlekatan dengan ujung lidah untuk membentuk bunyi dental.contoh:Bunyi T dan D dalam bahasa indonesia.
2.Alveolar.
Menurut KBBI alveolar adalah rongga dalam rahang tempat akar gigi tertanam,daerah ini berada persis dibelakang pangkal gigi atas.Pada alveolar dapat ditempelkan ujung lidah untuk membentuk bunyi yang dinamakan bunyi alveolar.
Contoh: bunyi T dan D dalam bahasa ingris.
3.Palatal keras
Daerah ini ada di rongga atas mulut, persis dibelakang daerah alveolar.Pada daerah ini dapat ditempelkan bagian depan lidah untuk membentuk bunyi yang dinamakan alveopalatal.
Contoh: bunyi C dan J
4.Palatal lunak.
Bunyi yang dihasilkan dengan menempatkan bagian depan lidah didekat atau pada langit-langit,daerah ini dinamakan dengan velum, ada dibagian belakang rongga mulut atas. Pada palatal lunak dapat dilekatkan bagian belakang lidah untuk membentuk bunyi yang dinamakan velar.
Contoh: Bunyi K dan G.
5.Uvula.
Pada ujung rahang atas terdapat tulang lunak yang dinamakan uvula.uvula dapat digerakkan untuk menutup saluran ke hidung atau membukanya.Bila uvula tidak berlekatan dengan bagian atas laring maka bunyi udara keluar melalui hidung.Bunyi ini lah yang dinamakan dengan bunyi nasal.Jika uvula berlekatan dengan dinding laring maka udara disalurkan melalui mulut dan menghasilakan bunyi yang dinamakan dengan oral.
6.Lidah.
Pada rahang bawah , disamping bibir dan gigi, terdapat pula lidah.Lidah adalah bagian mulut yang fleksibel ia dapat digerakkan dengan lentur.
Lidah itu terdiri dari:
a. Ujung lidah, yaitu bagian yang paling depan dari lidah.
b. Mata lidah, yaitu berada persis dibelakang ujung lidah.
c. Depan lidah, yaitu bagian yang sedikit agak ketengah ttap masih tetap di depan.
d. Belakang ladah, yaitu bagian yang ada dibagian belakang dari lidah.
7.Pita suara.
Pita suara adalah sepasang selaput yang berada di jakun.Selaput ini dapat dirapatkan, dapat direnggangkan, dan dapat dibuka lebar.
8.Faring.
Adalah saluran udara menuju ke rongga mulut atau rongga hidung.
9.Rongga hidung.
Adalah rongga untuk bunyi-bunyi nasal, seperti M dan N.
10.Rongga mulut.
Adalah untuk bunyi-bunyi oral, seperti P, B, A, dan I
Minggu, 10 April 2011
tugas wacana
REFERENSI
Menurut Matthews (1997: 312), referensi adalah hubungan antara ujaran dengan barang yang ditunjuk yang dapat diidentifikasi dengan baik oleh pembicara/pendengar. Referensi berbeda dari denotasi, denotasi adalah hubungan antara satuan bahasa dengan sebarang maujud di luar bahasa yang dapat diterapi oleh barang tersebut dengan tepat. Dalam referensi kita dapat menunjuk ke seluruh kelas atau genusnya. Cruse (2004: 306) membagi referensi menjadi tiga, yaitu:
- referensi takrif (definite)
- referensi tak takrif (indefinite)
- referensi generik
Referensi Takrif
Menurut Cruse (2004: 308), identifikasi dari referen yang diacu dalam ungkapan yang menggunakan referensi takrif bersifat penting, karena dengan begitu pendengar dapat menyimpulkan referen yang diacu oleh pembicara. Contohnya:
(4) a. The man gave it to her
b. A man gave it to her
Kedua kalimat diatas menunjukkan seorang laki-laki yang melakukan perbuatan memberi. Perbedaan dari kedua kalimat tersebut adalah pada artikel the dan a. Pada kalimat (2) a, artikel the adalah takrif karena mengacu pada referen yang dapat diidentifikasi (seorang laki-laki ‘tertentu’).
Referensi Tak Takrif
Esensi dari referensi tak takrif adalah identitas dari referen yang diacu tidak memiliki relevansi dan keterkaitan dengan pesan yang disampaikan (Cruse 2004: 308). Contohnya dalam kalimat ‘Ada orang menanyakan alamat’. Referen ‘orang’ adalah tak takrif karena tidak diketahui siapa dan berapa jumlahnya.
Referensi Generik
Menurut Cruse (2004: 311), referensi generik adalah acuan pada seluruh referen. Contoh referensi generik ada dalam kalimat berikut ini: Sapi berkaki empat; Sapi pemakan rumput. Maka dapat dikatakan bahwa ‘apa saja yang disebut sapi berkaki empat’ dan ‘apa saja yang disebut sapi pasti pemakan rumput’.
Pengertian Praanggapan
Praanggapan (presuposisi) berasal dari kata to pre-suppose, yang dalam bahasa Inggris berarti to suppose beforehand (menduga sebelumnya), dalam arti sebelum pembicara atau penulis mengujarkan sesuatu ia sudah memiliki dugaan sebelumnya tentang kawan bicara atau hal yang dibicarakan .
Selain definisi tersebut, beberapa definisi lain tentang praanggapan di antaranya adalah :
Levinson (dalam Nababan, 1987: 48) memberikan konsep praanggapan yang disejajarkan maknanya dengan presupposition sebagai suatu macam anggapan atau pengetahuan latar belakang yang membuat suatu tindakan, teori, atau ungkapan mempunyai makna.
George Yule (2006 : 43) menyatakan bahwa praanggapan atau presupposisi adalah sesuatu yang diasumsikan oleh penutur sebagai kejadian sebelum menghasilkan suatu tuturan. Yang memiliki presuposisi adalah penutur bukan kalimat. Louise Cummings (1999: 42) menyatakan bahwa praanggapan adalah asumsi-asumsi atau inferensi-inferensi yang tersirat dalam ungkapan-ungkapan linguistik tertentu.
Nababan (1987: 46), memberikan pengertian praanggapan sebagai dasar atau penyimpulan dasar mengenai konteks dan situasi berbahasa (menggunakan bahasa) yang membuat bentuk bahasa (kalimat atau ungkapan) mempunyai makna bagi pendengar atau penerima bahasa itu dan sebaliknya, membantu pembicara menentukan bentuk-bentuk bahasa yang dapat dipakainya untuk mengungkapkan makna atau pesan yang dimaksud.
Dari beberapa definisi praanggapan di atas dapat disimpulkan bahwa praanggapan adalah kesimpulan atau asumsi awal penutur sebelum melakukan tuturan bahwa apa yang akan disampaikan juga dipahami oleh mitra tutur. Untuk memperjelas hal ini, perhatikan contoh berikut :
A : “Aku sudah membeli bukunya Pak Pranowo kemarin”
B : “Dapat potongan 30 persen kan?
Contoh percakapan di atas menunjukkan bahwa sebelum bertutur A memiliki praanggapan bahwa B mengetahui maksudnya yaitu terdapat sebuah buku yang ditulis oleh Pak Pranowo.
Praanggapan (presuposisi) berasal dari kata to pre-suppose, yang dalam bahasa Inggris berarti to suppose beforehand (menduga sebelumnya), dalam arti sebelum pembicara atau penulis mengujarkan sesuatu ia sudah memiliki dugaan sebelumnya tentang kawan bicara atau hal yang dibicarakan .
Selain definisi tersebut, beberapa definisi lain tentang praanggapan di antaranya adalah :
Levinson (dalam Nababan, 1987: 48) memberikan konsep praanggapan yang disejajarkan maknanya dengan presupposition sebagai suatu macam anggapan atau pengetahuan latar belakang yang membuat suatu tindakan, teori, atau ungkapan mempunyai makna.
George Yule (2006 : 43) menyatakan bahwa praanggapan atau presupposisi adalah sesuatu yang diasumsikan oleh penutur sebagai kejadian sebelum menghasilkan suatu tuturan. Yang memiliki presuposisi adalah penutur bukan kalimat. Louise Cummings (1999: 42) menyatakan bahwa praanggapan adalah asumsi-asumsi atau inferensi-inferensi yang tersirat dalam ungkapan-ungkapan linguistik tertentu.
Nababan (1987: 46), memberikan pengertian praanggapan sebagai dasar atau penyimpulan dasar mengenai konteks dan situasi berbahasa (menggunakan bahasa) yang membuat bentuk bahasa (kalimat atau ungkapan) mempunyai makna bagi pendengar atau penerima bahasa itu dan sebaliknya, membantu pembicara menentukan bentuk-bentuk bahasa yang dapat dipakainya untuk mengungkapkan makna atau pesan yang dimaksud.
Dari beberapa definisi praanggapan di atas dapat disimpulkan bahwa praanggapan adalah kesimpulan atau asumsi awal penutur sebelum melakukan tuturan bahwa apa yang akan disampaikan juga dipahami oleh mitra tutur. Untuk memperjelas hal ini, perhatikan contoh berikut :
A : “Aku sudah membeli bukunya Pak Pranowo kemarin”
B : “Dapat potongan 30 persen kan?
Contoh percakapan di atas menunjukkan bahwa sebelum bertutur A memiliki praanggapan bahwa B mengetahui maksudnya yaitu terdapat sebuah buku yang ditulis oleh Pak Pranowo.
Sumber: Presuposisi (praanggapan) : Pengertian, Ciri, dan Jenisnya http://id.shvoong.com/exact-sciences/1973543-presuposisi-praanggapan-pengertian-ciri-dan/#ixzz1J1EnDxpB
IMPLIKATUR
Implikatur dikenalkan Grice (1975), Pratt (1981), Brown & Yule (1986), Carston (1991) dalam beberapa karya mereka. Istilah implikatur diantonimkan dengan istilah eksplikatur. Secara sederhana implikatur adalah makna tidak langsung atau makna tersirat yang ditimbulkan oleh yang tersurat (eksplikatur). Implikatur dimaksudkan sebagai suatu ujaran yang menyiratkan suatu yang berbeda dengan yang sebenarnya diucapkan. Menggunakan implikatur dalam percakapan berarti menyatakan sesuatu secara tidak langsung. Grice (1975:43) menjelaskan bahwa implikatur mencakup beberapa pengembangan teori hubungan antara ekspresi, makna tuturan, makna penutur, dan implikasi suatu tuturan.
Seorang keluarga pasien yang menginginkan anaknya agar mendapatkan perawatan yang lebih dengan cara menyuntik cukup dengan mengimplikasikan melalui tuturan berikut.
(1) KP : Anak saya masih benter.
P : Sebentar, saya suntik dulu.
Dari pengalaman sebelumnya dan memperhatikan kebiasaan keluarga pasien rawat inap anak yang selalu mengharapkan anaknya yang panas agar disuntik, maka perawat akan langsung mengambil spet untuk menyuntik pasien tersebut. Jadi, implikatur akan dengan mudah dipahami jika antara penutur dan mitra tutur telah berbagi pengalaman dan pengetahuan.
Dalam teorinya, Grice membedakan tiga macam implikatur, yaitu implikatur konvensional, implikatur nonkonvensional, dan praanggapan.
Contoh: Seorang tamu baru saja masuk ke ruang tamu dan berkata “udara panas sekali”. Pernyataan itu mempunyai bermacam-macam makna yang diimplikasikan, yaitu sebagai berikut.
(2) meminta kepada tuan rumah untuk berbicara di teras rumah.
(3) meminta kepada tuan rumah air es atau air dingin;
(4) meminta kepada tuan rumah untuk membuka jendela atau pintu sehingga udara ruang menjadi sejuk;
(5) meminta izin untuk membuka sebagian kancing baju;
(6) meminta kepada tuan rumah untuk menyalakan ac-nya atau kipas angin; dan
(7) memi nta kepada tuan rumah untuk mematikan lampu yang sangat terang.
Keenam makna tidak langsung tersebut dinamakan makna implikasi/tersirat, sedangkan makna yang tersurat (literal) disebut eksplikatur. Makna yang tersurat adalah “menginformasikan bahwa keadaan (siang ini) sangat panas”.
Mengembangkan pendapat Grice (1975), bahwa implikatur dibedakan menjadi dua, yaitu (a) implikatur konvensional, dan (2) implikatur nonkonvensional. Implikatur konvensional adalah implikatur yang diperoleh dari makna kata, bukan dari pelanggaran prinsip percakapan. Adapun implikatur nonkonvensional adalah implikatur yang diperoleh dari fungsi pragmatis yang tersirat dalam suatu percakapan.
Cotoh implikatur konvensional:
“Matroji orang Madura sehingga dia pemberani.”
Implikasi tuturan tersebut adalah bahwa keberanian Matroji karena dia orang Madura. Apabila matroji bukan orang Madura, tentu saja tuturan tersebut tidak berimplikasi bahwa keberanian Matroji karena ia orang Madura.
Contoh implikatur nonkonvensional:
“Dia sekarang sudah mapan”
Implikatur nonkonvensional tersebut adalah pada waktu sebelumnya, dia kehidupannya serba tidak menentu, baik penghasilan, perumahan, pekerjaan, dan sejenisnya.
Gunarwan (dalam Rustono, 1999:89) menegaskan adanya tiga hal yang perlu diperhatikan berkaitan dengan implikatur, yaitu (1) implikatur bukan merupakan bagian dari tuturan, (2) implikatur bukanlah akibat logis tuturan, (3) sebuah tuturan memungkinkan memiliki lebih dari satu implikatur, dan itu bergantung pada konteksnya.
Grice membedakan lagi secara dikotomis implikatur percakapan, yaitu (1) implikatur percakapan khusus, dan (2) implikatur percakapan umum. Implikatur percakapan khusus adalah implikatur yang kemunculannya memerlukan konteks khusus. Adapun implikatur percakapan umum adalah implikatur yang kehadirannya di dalam percakapan tidak memerlukan konteks khusus.
Contoh implikatur percakapan khusus:
“Kucing itu kelihatan girang sekali”.
Konteks khususnya:
a. Mungkin kucing itu makan bandeng presto.
b. Di mana bandeng presto itu disimpan?
Contoh implikatur percakapan umum:
“Saya berkenalan dengan rektor Unigo”
(Sebelumnya saya tidak pernah berkenalan dengan rektor Unigo)
Leech (1993:269) menyatakan bahwa implikatur digunakan agar pernyataan yang disampaikan itu lebih santun. Contohnya seperti pernyataan berikut ini.
“Pembangunan masjid kita sampai hari ini sudah mencapai tahap kedua, tepatnya 2 tahun 2 bulan. Namun sampai saat ini keramik yang sudah kita pesan belum dipasang juga. Saudara-saudara, lihatlah ke atas, langit-langit masjid ini belum sepenuhnya selesai. Untuk itu malam yang penuh barokah ini kita bertekat untuk menuntaskan semuanya. Alhamdulillah Bapak Wali Kota Malang malam ini juga hadir dalam upaya pembinaan mental spiritual warga Kota Malang”.
Implikatur memberikan makna yang berkebalikan dengan eksplikaturnya. Menurut Stubbs (1983:210) implikatur bentuk ini meskipun maknanya berkebalikan tetapi tidak menimbulkan pertentangan logika.
Contoh:
Seorang ibu melihat anaknya memanjat pohon, kemudian mengatakan kepada anaknya “Ayo, naik lebih tinggi lagi. Ayo, naik sampai puncak, ayo teruskan...” Ujaran tersebut tidak dimaksudkan untuk menyuruh anaknya agar memanjat lebih tinggi lagi, tetapi sebaliknya `menyuruh anaknya turun, karena memanjat pohon itu berbahaya, dapat berakibat jatuh dari pohon`, dan seterusnya.
Selanjutnya, Grice (1991) merumuskan adanya lima ciri implikatur percakapan. Pertama, dalam keadaan tertentu, implikatur percakapan dapat dibatalkan baik dengan cara eksplisit maupun dengan cara kontekstual. Kedua, ketidakterpisahan antara implikatur percakapan dengan cara mengatakan sesuatu. Biasanya tidak ada cara lain yang lebih tepat untuk mengatakan sesuatu itu sehingga orang menggunakan tuturan bermuatan implikatur percakapan untuk menyampaikannya. Ketiga, implikatur percakapan mempersyaratkan makna konvensional dari kalimat yang digunakan, tetapi isi implikatur percakapan tidak masuk dalam makna konvensional kalimat. Keempat, kebenaran isi implikatur percakapan tidak bergantung pada apa yang dikatakan, tetapi dapat diperhitungkan dari bagaimana tindakan mengatakan apa yang dikatakan. Kelima, implikatur percakapan tidak dapat diberi penjelasan spesifik yang pasti sifatnya.
Teori implikatur dikemukakan Grice sebagai jalan keluar untuk menjelaskan makna bahasa yang tidak dapat diselesaikan oleh teori semantik. Berkaitan dengan itu, Levinson (1987) menyatakan bahwa: (1) Teori implikatur dapat memberikan penjelasan fungsional atas fakta-fakta kenahasaan yang tidak terjangkau oleh teori linguistik (struktural). (2) Teori implikatur memberikan penjelasan eksplisit adanya perbedaan antara apa yang diucapkan secara lahiriah dengan apa yang dimaksudkan oleh suatu ujaran dan pemakai bahasa pun memahaminya. (3) Teori implikatur dapat menyederhanakan deskripsi semantik hubungan antarklausa yang berbeda konjungsinya. (4) Teori implikatur dapat menerangkan berbagai macam gejala kebahasaan yang secara lahiriah tampak tidak berkaitan atau bahkan berlawanan, tetapi ternyata berhubungan
Definisi Inferensi
n Inferensi adalah : Proses yang digunakan dalam Sistem Pakar untuk menghasilkan informasi baru dari informasi yang telah diketahui
n Dalam sistem pakar proses inferensi dilakukan dalam suatu modul yang disebut Inference Engine (Mesin inferensi)
n Ketika representasi pengetahuan (RP) pada bagian knowledge base telah lengkap, atau paling tidak telah berada pada level yang cukup akurat, maka RP tersebut telah siap digunakan.
n Inference engine merupakan modul yang berisi program tentang bagaimana mengendalikan proses reasoning.
n Definisi reasoning.: Proses bekerja dengan pengetahuan, fakta dan strategi pemecahan masalah, untuk mengambil suatu kesimpulan. (Berpikir dan mengambil kesimpulan)
n Metode Reasoning
u Deductive Reasoning
u Inductive Reasoning
u Abductive Reasoning
u Analogical Reasoning
u Common Sense Reasoni ng
contoh
n Penggambaran secara skematik dari proses inferensi
n Sama dengan decision tree
n Inferencing: tree traversal
Advantage: Panduan untuk Explanations Why dan How
contoh resensi novel

Judul : Bumi Cinta
penulis : Habiburrahman El Shirazy
Penerbit : BASMALA
546 halaman
CERITA
Dan tersebutkah seorang pemuda Indonesia bernama Muhammad Ayyas, seorang mahasiswa pasca sarjana di Delhi, India yang juga seorang santri. Muhammad Ayyas yang sebelumnya kuliah di Madinah ini berniat ingin mengerjakan tugas penelitian dari Dosen pembimbingnya yaitu mengenai Kehidupan Umat Islam di Rusia pada masa pemerintahan Stallin.
Tibalah ia di Rusia dengan disambut oleh teman lamanya David. David inilah yang mencarikan apartemen tempat tinggal untuk Ayyas. Dengan alasan keterbatasan budget yang dimiliki Ayyas dan lokasi apartemen yang strategis ternyata David hanya bisa mendapatkan sebuah apartemen yang berbagi dengan orang lain. Parahnya teman seapartemennya itu adalah dua orang wanita Rusia yang jelita. Serangkaian masalah bagi Ayyas pun bermula dari sini.
Yelena seorang pelacur kelas atas dan Linor seorang pemain biola yang akhirnya diketahui sebagai agen rahasia Mossad adalah 2 wanita yang menjadi teman seapartemen Ayyas. Apartemen yang memiliki 3 kamar ini mengharuskan Ayyas harus selalu berinteraksi dengan keduanya di ruang tamu, dapur, dan ruang keluarga. Sungguh ini merupakan godaan keimanan yang dahsyat bagi Ayyas yang mencoba menjaga kesucian dirinya sebagai muslim.
Godaan bagi Ayyas tidak hanya sampai di situ, dosen pembimbing yang dirujuk oleh dosennya di Delhi tidak bisa melakukan bimbingan ke Ayyas karena sesuatu hal, dia menyerahkan tugas bimbingan ini kepada asistennya. Dan ternyata sang asisten adalah seorang gadis muda jelita bernama Anastasia, seorang penganut kristen ortodoks yang sangat taat.
Interaksi yang intens sang asisten dengan Ayyas menimbulkan rasa simpati yang lebih di hati Anastasia kepada Ayyas. Ketertarikan itu pun kian hari kian menguat. Di lain pihak Yelena tengah dilanda konflik dengan sang mucikari dan Linor sang agen Mossad tengah menyiapkan rencana jahat kepada Ayyas, yaitu menyiapkan rekayasa fitnah sebuah pengeboman yang diarahkan agar Ayyas sebagai pelakunya.
Tiga wanita inilah yang mendominasi jalannya kisah dalam Bumi Cinta. Tidak ada konflik yang sedemikian hebat dalam kisah ini sebagaimana kita temui pada sosok Fahri yang sempat masuk penjara di Mesir, atau tokoh Furqon yang sempat terkena virus HIV. Di sini tokoh Ayyas hanya “nyaris” dipenjara karena difitnah melakukan pengeboman di Hotel Metropole oleh Linor.
Kisah ini juga dilengkapi dengan peristiwa pembantaian Zionis terhadap muslim Palestina di Sabra dan Sathila. Nuansa romansa memang terasa sangat kental di sini. Tiap halaman akan kita jumpai gejolak perasaan Ayyas atas wanita-wanita jelita yang dijumpainya.
KEKURANGAN NOVEL
Lagi-lagi Kang Abik menampilkan tokoh yang terlalu sempurna di sini. Muhammad Ayyas memang dikisahkan tidak tampan dan juga tidak jelek, namun ia sangatlah cerdas, saleh, tawadhu, memiliki kepekaan sosial yang luar biasa, sangat romantis dan sifat-sifat baik lainnya. Bahkan berkali-kali Ayyas digambarkan menangis akan hal-hal yang ia anggap merupakan dosa atau mendekati dosa.
Banyak terdapat dialog-dialog yang sangat panjang yang jika kita bayangkan dalam dunia nyata ini akan sangat tidak realistis. Kang Abik dalam hal ini kurang halus dalam menyusupkan nilai-nilai dakwah. Tidak seperti dalam Ayat-Ayat Cinta dan Ketika Cinta Bertasbih, dialog-dialog bermuatan dakwah dalam novel ini ada kesan menggurui dan terlalu berpanjang-panjang.
Plot cerita terasa sangat datar. Ketika peristiwa pengeboman terjadi saya berharap ini menjadi klimaks cerita tentang kedzaliman yang harus dihadapi Ayyas, namun sayang ini sekali ini tidak kita jumpai. Tokoh Ayyas di sini tidak menghadapi konflik yang berarti alias bahagia-bahagia saja sepanjang cerita.
Mengapa yang terpikat kepada Ayyas seluruhnya merupakan wanita-wanita cantik? walau pun dengan ragam latar belakang yang berbeda tetap ini merupakan gangguan buat saya pribadi ketika membacanya.
KELEBIHAN NOVEL
Sebagaimana novel sebelumnya, Bumi Cinta sarat degan muatan dakwah. Kisah romansa berbalut nilai dakwah ini disajikan dengan apik dan asyik untuk dinikmati. kang Abik juga menyelipkan kisah Sabra dan Sathila yang merupakan kisah pembantaian Zionis atas muslim Palestina.
Kang Abik menggambarkan kota Moskow dengan amat sangat detail, dari lokasi-lokasi strategis, gedung-gedung bersejarah, makanan khas Rusia, metro yang merupakan kebanggaan masyarakat Moskow, gaya hidup masyarakat di sana serta hal lainnya. Semua digambarkan dengan sangat jelas dan detail. Kutipan-kutipan bahasa Rusia juga benar-benar mampu menghanyutkan pembaca seakan benar-benar berada di negeri Rusia.
Akhir kisah yang menggantung, yaitu ketika Linor ditembak oleh agen Mossad setelah ia berhijrah ke Islam. Hingga halaman terakhir tidak diketahui apakah Linor ini akan mati atau selamat. Terus terang ini sangat membuat penasaran.
Langganan:
Postingan (Atom)
