Powered By Blogger

Minggu, 10 April 2011

tugas wacana


REFERENSI
Menurut Matthews (1997: 312), referensi adalah hubungan antara ujaran dengan barang yang ditunjuk yang dapat diidentifikasi dengan baik oleh pembicara/pendengar. Referensi berbeda dari denotasi, denotasi adalah hubungan antara satuan bahasa dengan sebarang maujud di luar bahasa yang dapat diterapi oleh barang tersebut dengan tepat. Dalam referensi kita dapat menunjuk ke seluruh kelas atau genusnya. Cruse (2004: 306) membagi referensi menjadi tiga, yaitu:
  • referensi takrif (definite)
  • referensi tak takrif (indefinite)
  • referensi generik
Referensi Takrif
Menurut Cruse (2004: 308), identifikasi dari referen yang diacu dalam ungkapan yang menggunakan referensi takrif bersifat penting, karena dengan begitu pendengar dapat menyimpulkan referen yang diacu oleh pembicara. Contohnya:
(4)  a. The man gave it to her
b. A man gave it to her
Kedua kalimat diatas menunjukkan seorang laki-laki yang melakukan perbuatan memberi. Perbedaan dari kedua kalimat tersebut adalah pada artikel the dan a. Pada kalimat (2) a, artikel the adalah takrif karena mengacu pada referen yang dapat diidentifikasi (seorang laki-laki ‘tertentu’).
Referensi Tak Takrif
Esensi dari referensi tak takrif adalah identitas dari referen yang diacu tidak memiliki relevansi dan keterkaitan dengan pesan yang disampaikan (Cruse 2004: 308). Contohnya dalam kalimat ‘Ada orang menanyakan alamat’. Referen ‘orang’ adalah tak takrif karena tidak diketahui siapa dan berapa jumlahnya.
Referensi Generik
Menurut Cruse (2004: 311), referensi generik adalah acuan pada seluruh referen. Contoh referensi generik ada dalam kalimat berikut ini: Sapi berkaki empat; Sapi pemakan rumput. Maka dapat dikatakan bahwa ‘apa saja yang disebut sapi berkaki empat’ dan ‘apa saja yang disebut sapi pasti pemakan rumput’.
Pengertian Praanggapan
Praanggapan (presuposisi) berasal dari kata to pre-suppose, yang dalam bahasa Inggris berarti to suppose beforehand (menduga sebelumnya), dalam arti sebelum pembicara atau penulis mengujarkan sesuatu ia sudah memiliki dugaan sebelumnya tentang kawan bicara atau hal yang dibicarakan .
Selain definisi tersebut, beberapa definisi lain tentang praanggapan di antaranya adalah :
Levinson (dalam Nababan, 1987: 48) memberikan konsep praanggapan yang disejajarkan maknanya dengan presupposition sebagai suatu macam anggapan atau pengetahuan latar belakang yang membuat suatu tindakan, teori, atau ungkapan mempunyai makna.
George Yule (2006 : 43) menyatakan bahwa praanggapan atau presupposisi adalah sesuatu yang diasumsikan oleh penutur sebagai kejadian sebelum menghasilkan suatu tuturan. Yang memiliki presuposisi adalah penutur bukan kalimat. Louise Cummings (1999: 42) menyatakan bahwa praanggapan adalah asumsi-asumsi atau inferensi-inferensi yang tersirat dalam ungkapan-ungkapan linguistik tertentu.
Nababan (1987: 46), memberikan pengertian praanggapan sebagai dasar atau penyimpulan dasar mengenai konteks dan situasi berbahasa (menggunakan bahasa) yang membuat bentuk bahasa (kalimat atau ungkapan) mempunyai makna bagi pendengar atau penerima bahasa itu dan sebaliknya, membantu pembicara menentukan bentuk-bentuk bahasa yang dapat dipakainya untuk mengungkapkan makna atau pesan yang dimaksud.
Dari beberapa definisi praanggapan di atas dapat disimpulkan bahwa praanggapan adalah kesimpulan atau asumsi awal penutur sebelum melakukan tuturan bahwa apa yang akan disampaikan juga dipahami oleh mitra tutur. Untuk memperjelas hal ini, perhatikan contoh berikut :
A : “Aku sudah membeli bukunya Pak Pranowo kemarin”
B : “Dapat potongan 30 persen kan?
Contoh percakapan di atas menunjukkan bahwa sebelum bertutur A memiliki praanggapan bahwa B mengetahui maksudnya yaitu terdapat sebuah buku yang ditulis oleh Pak Pranowo.



IMPLIKATUR




            Implikatur dikenalkan Grice (1975), Pratt (1981), Brown & Yule (1986), Carston (1991) dalam beberapa karya mereka. Istilah implikatur diantonimkan dengan istilah eksplikatur. Secara sederhana implikatur adalah makna tidak langsung atau makna tersirat yang ditimbulkan oleh yang tersurat (eksplikatur). Implikatur dimaksudkan sebagai suatu ujaran yang menyiratkan suatu yang berbeda dengan yang sebenarnya diucapkan. Menggunakan implikatur dalam percakapan berarti menyatakan sesuatu secara tidak langsung. Grice (1975:43) menjelaskan bahwa implikatur mencakup beberapa pengembangan teori hubungan antara ekspresi, makna tuturan, makna penutur, dan implikasi suatu tuturan.
            Seorang keluarga pasien yang menginginkan anaknya agar mendapatkan perawatan yang lebih dengan cara menyuntik cukup dengan mengimplikasikan melalui tuturan berikut.
(1) KP : Anak saya masih benter.
       P : Sebentar, saya suntik dulu.
            Dari pengalaman sebelumnya dan memperhatikan kebiasaan keluarga pasien rawat inap anak yang selalu mengharapkan anaknya yang panas agar disuntik, maka perawat akan langsung mengambil spet untuk menyuntik pasien tersebut. Jadi, implikatur akan dengan mudah dipahami jika antara penutur dan mitra tutur telah berbagi pengalaman dan pengetahuan.
            Dalam teorinya, Grice membedakan tiga macam implikatur, yaitu implikatur konvensional, implikatur nonkonvensional, dan praanggapan.
Contoh: Seorang tamu baru saja masuk ke ruang tamu dan berkata “udara panas sekali”. Pernyataan itu mempunyai bermacam-macam makna yang diimplikasikan, yaitu sebagai berikut.
(2) meminta kepada tuan rumah untuk berbicara di teras rumah.
(3) meminta kepada tuan rumah air es atau air dingin;
(4) meminta kepada tuan rumah untuk membuka jendela atau pintu sehingga udara ruang      menjadi sejuk;
(5) meminta izin untuk membuka sebagian kancing baju;
(6) meminta kepada tuan rumah untuk menyalakan ac-nya atau kipas angin; dan
(7) memi nta kepada tuan rumah untuk mematikan lampu yang sangat terang.

            Keenam makna tidak langsung tersebut dinamakan makna implikasi/tersirat, sedangkan makna yang tersurat (literal) disebut eksplikatur. Makna yang tersurat adalah “menginformasikan bahwa keadaan (siang ini) sangat panas”.
Mengembangkan pendapat Grice (1975), bahwa implikatur dibedakan menjadi dua, yaitu (a) implikatur konvensional, dan (2) implikatur nonkonvensional. Implikatur konvensional adalah implikatur yang diperoleh dari makna kata, bukan dari pelanggaran prinsip percakapan. Adapun implikatur nonkonvensional adalah implikatur yang diperoleh dari fungsi pragmatis yang tersirat dalam suatu percakapan.
Cotoh implikatur konvensional:
“Matroji orang Madura sehingga dia pemberani.”
            Implikasi tuturan tersebut adalah bahwa keberanian Matroji karena dia orang Madura. Apabila matroji bukan orang Madura, tentu saja tuturan tersebut tidak berimplikasi bahwa keberanian Matroji karena ia orang Madura.
Contoh implikatur nonkonvensional:
“Dia sekarang sudah mapan”
            Implikatur nonkonvensional tersebut adalah pada waktu sebelumnya, dia kehidupannya serba tidak menentu, baik penghasilan, perumahan, pekerjaan, dan sejenisnya.
            Gunarwan (dalam Rustono, 1999:89) menegaskan adanya tiga hal yang perlu diperhatikan berkaitan dengan implikatur, yaitu (1) implikatur bukan merupakan bagian dari tuturan, (2) implikatur bukanlah akibat logis tuturan, (3) sebuah tuturan memungkinkan memiliki lebih dari satu implikatur, dan itu bergantung pada konteksnya.
            Grice membedakan lagi secara dikotomis implikatur percakapan, yaitu (1) implikatur percakapan khusus, dan (2) implikatur percakapan umum. Implikatur percakapan khusus adalah implikatur yang kemunculannya memerlukan konteks khusus. Adapun implikatur percakapan umum adalah implikatur yang kehadirannya di dalam percakapan tidak memerlukan konteks khusus.
Contoh implikatur percakapan khusus:
“Kucing itu kelihatan girang sekali”.
Konteks khususnya:
a. Mungkin kucing itu makan bandeng presto.
b. Di mana bandeng presto itu disimpan?
Contoh implikatur percakapan umum:
“Saya berkenalan dengan rektor Unigo”
(Sebelumnya saya tidak pernah berkenalan dengan rektor Unigo)
            Leech (1993:269) menyatakan bahwa implikatur digunakan agar pernyataan yang disampaikan itu lebih santun. Contohnya seperti pernyataan berikut ini.
“Pembangunan masjid kita sampai hari ini sudah mencapai tahap kedua, tepatnya 2 tahun 2 bulan. Namun sampai saat ini keramik yang sudah kita pesan belum dipasang juga. Saudara-saudara, lihatlah ke atas, langit-langit masjid ini belum sepenuhnya selesai. Untuk itu malam yang penuh barokah ini kita bertekat untuk menuntaskan semuanya. Alhamdulillah Bapak Wali Kota Malang malam ini juga hadir dalam upaya pembinaan mental spiritual warga Kota Malang”.
            Implikatur memberikan makna yang berkebalikan dengan eksplikaturnya. Menurut Stubbs (1983:210) implikatur bentuk ini meskipun maknanya berkebalikan tetapi tidak menimbulkan pertentangan logika.
Contoh:
Seorang ibu melihat anaknya memanjat pohon, kemudian mengatakan kepada anaknya “Ayo, naik lebih tinggi lagi. Ayo, naik sampai puncak, ayo teruskan...” Ujaran tersebut tidak dimaksudkan untuk menyuruh anaknya agar memanjat lebih tinggi lagi, tetapi sebaliknya `menyuruh anaknya turun, karena memanjat pohon itu berbahaya, dapat berakibat jatuh dari pohon`, dan seterusnya.

            Selanjutnya, Grice (1991) merumuskan adanya lima ciri implikatur percakapan. Pertama, dalam keadaan tertentu, implikatur percakapan dapat dibatalkan baik dengan cara eksplisit maupun dengan cara kontekstual. Kedua, ketidakterpisahan antara implikatur percakapan dengan cara mengatakan sesuatu. Biasanya tidak ada cara lain yang lebih tepat untuk mengatakan sesuatu itu sehingga orang menggunakan tuturan bermuatan implikatur percakapan untuk menyampaikannya. Ketiga, implikatur percakapan mempersyaratkan makna konvensional dari kalimat yang digunakan, tetapi isi implikatur percakapan tidak masuk dalam makna konvensional kalimat. Keempat, kebenaran isi implikatur percakapan tidak bergantung pada apa yang dikatakan, tetapi dapat diperhitungkan dari bagaimana tindakan mengatakan apa yang dikatakan. Kelima, implikatur percakapan tidak dapat diberi penjelasan spesifik yang pasti sifatnya.
            Teori implikatur dikemukakan Grice sebagai jalan keluar untuk menjelaskan makna bahasa yang tidak dapat diselesaikan oleh teori semantik. Berkaitan dengan itu, Levinson (1987) menyatakan bahwa: (1) Teori implikatur dapat memberikan penjelasan fungsional atas fakta-fakta kenahasaan yang tidak terjangkau oleh teori linguistik (struktural). (2) Teori implikatur memberikan penjelasan eksplisit adanya perbedaan antara apa yang diucapkan secara lahiriah dengan apa yang dimaksudkan oleh suatu ujaran dan pemakai bahasa pun memahaminya. (3) Teori implikatur dapat menyederhanakan deskripsi semantik hubungan antarklausa yang berbeda konjungsinya. (4) Teori implikatur dapat menerangkan berbagai macam gejala kebahasaan yang secara lahiriah tampak tidak berkaitan atau bahkan berlawanan, tetapi ternyata berhubungan

Definisi Inferensi

n  Inferensi adalah : Proses yang digunakan dalam Sistem Pakar untuk menghasilkan informasi baru dari informasi yang telah diketahui
n  Dalam sistem pakar proses inferensi dilakukan dalam suatu modul yang disebut Inference Engine (Mesin inferensi)
n  Ketika representasi pengetahuan (RP) pada bagian knowledge base telah lengkap, atau paling tidak telah berada pada level yang cukup akurat, maka RP tersebut telah siap digunakan.
n  Inference engine merupakan modul yang berisi program tentang bagaimana mengendalikan proses reasoning.

n  Definisi reasoning.: Proses bekerja dengan pengetahuan, fakta dan strategi pemecahan masalah, untuk mengambil suatu kesimpulan. (Berpikir dan mengambil kesimpulan)
n  Metode Reasoning
u Deductive Reasoning
u Inductive Reasoning
u Abductive Reasoning
u Analogical Reasoning
u Common Sense Reasoni ng
contoh
n  Penggambaran secara skematik dari proses inferensi
n  Sama dengan decision tree
n  Inferencing: tree traversal
Advantage: Panduan untuk Explanations Why dan How

Tidak ada komentar:

Posting Komentar