Powered By Blogger

Jumat, 15 April 2011

persepsi ujaran


. PERSEPSI TERHADAP UJARAN

Ujaran adalah suara murni (tuturan), langsung, dari sosok yang berbicara.
Jadi ujaran itu adalah sesuatu baik berupa kata,kalimat,gagasan, yang keluar dari mulut manusia yang mempunyai arti. Dengan adanya ujaran ini maka akan muncullah makna sintaksis,semantik,dan pragmatik.

Persepsi terhadap ujaran bukanlah suatu hal yang mudah dilaku-kan oleh manusia kerana ujaran adalah suatu aktivitas verbal yang meluncur tanpa ada batas waktu yang jelas antara satu perkataan dengan perkataan lain. Perhatikan tiga ujaran berikut: (a) Bukan angka, (b) Buka nangka, dan (c) Bukan nangka. Mes-kipun ketiga ujaran ini berbeza maknanya satu dari yang lain, dalam pengucapannya ketiga bentuk ujaran ini boleh sama - [bukanaΝka].

Di samping itu, suatu bunyi juga tidak diucapkan secara persis sama tiap kali bunyi itu muncul. Bagaimana suatu bunyi diucapkan dipengaruhi oleh lingkungan di mana bunyi itu berada. Bunyi [b] pada perkataan buru, misalnya, tidak persis sama dengan bunyi [b] pada perkataan biru. Pada perkataan buru bunyi /b/ dipengaruhi oleh bunyi /u/ yang mengikutinya sehingga sedikit banyak ada unsur pembundaran bibir dalam pembuatan bunyi ini. Sebaliknya, bunyi yang sama ini akan diucapkan dengan bibir yang melebar pada perkataan biru kerana bunyi /i/ adalah bunyi vokal depan dengan bibir melebar.
Namun demikian, manusia tetap saja dapat mempersepsi bunyi-bunyi bahasanya dengan baik. Tentu saja persepsi seperti ini dilakukan melalui tahap-tahap tertentu. Pada dasarnya ada tiga tahap dalam pemrosesan persepsi bunyi (Clark & Clark, 1977):

1. Tahap auditori: Pada tahap ini manusia menerima ujaran sepotong demi sepotong. Ujaran ini kemudian ditanggapi dari segi fitur akustiknya. Konsep-konsep seperti titik artikulasi, cara artikulasi, fitur distingtif, dan VOT sangat bermanfaat di sini kerana ihwal seperti inilah yang memisahkan satu bunyi dari bunyi yang lain. Bunyi-bunyi dalam ujaran itu kita simpan dalam memori auditori kita.
2. Tahap fonetik: Bunyi-bunyi itu kemudian kita identi-fikasi. Dalam proses mental kita, kita lihat, misalnya, apakah bunyi tersebut [+konsonantal], [+vois], [+nasal], dst. Begitu pula lingkungan bunyi itu: apakah bunyi tadi diikuti oleh vokal atau oleh konsonan. Kalau oleh vokal, vokal macam apa - vokal depan, vokal belakang, vokal tinggi, vokal rendah, dsb. Seandainya ujaran itu adalah Bukan nangka, maka mental kita menganalisis bunyi /b/ terlebih dahulu dan menentukan bunyi apa yang kita dengar itu dengan memperhatikan hal-hal seperti titik artikulasi, cara artikulasi, dan fitur distingtifnya. Kemudian VOT-nya juga diperhatikan kerana VOT inilah yang akan menentukan kapan getaran pada pita suara itu terjadi.

Segmen-segmen bunyi ini kemudian kita simpan di memori fonetik. Perbezaan antara memori auditori dengan memori fonetik adalah bahawa pada memori audi-tori semua variasi alofonik yang ada pada bunyi itu kita simpan sedangkan pada memori fonetik hanya fitur-fitur yang sifatnya fonemik saja. Misalnya, bila kita mende-ngar bunyi [b] dari perkataan buntu maka yang kita simpan pada memori auditori bukan fonem /b/ dan bukan hanya titik artikulasi, cara artikulasi, dan fitur-fitur distingtif-nya saja tetapi juga pengaruh bunyi /u/ yang mengiku-tinya. Dengan demikian maka [b] ini sedikit banyak diikuti oleh bundaran bibir (lip-rounding). Pada memori fonetik, hal-hal seperti ini sudah tidak diperlukan lagi kerana begitu kita tangkap bunyi itu sebagai bunyi /b/ maka detailnya sudah tidak signifikan lagi. Ertinya, apakah /b/ itu diikuti oleh bundaran bibir atau tidak, tetap saja bunyi itu adalah bunyi /b/.

Analisis mental yang lain adalah untuk melihat bagaimana bunyi-bunyi itu diurutkan kerana urutan bunyi inilah yang nantinya menentukan perkataan itu perkataan apa. Bunyi /a/, /k/, dan /n/ boleh membentuk perkataan yang berbe-da bila urutannya berbeza. Bila /k/ didengar terlebih dahulu, kemudian /a/ dan /n/ maka akan terdengarlah bunyi /kan/; bila /n/ yang lebih dahulu, maka terdengarlah bunyi /nak/.
3. Tahap fonologis: Pada tahap ini mental kita menerapkan aturan fonologis pada deretan bunyi yang kita dengar untuk menentukan apakah bunyi-bunyi tadi sudah me-ngikuti aturan fonotaktik yang pada bahasa kita. Untuk bahasa Inggeris , bunyi /
��/ tidak mungkin memulai suatu suku kata. Kerana itu, penutur Inggeris pasti tidak akan menggabungkannya dengan suatu vokal. Seandainya ada urutan bunyi ini dengan bunyi yang berikutnya, dia pasti akan menempatkan bunyi ini dengan bunyi di mukanya, bukan di belakangnya. Dengan demikian deretan bunyi /b/, /��/, /��/, /i/, dan /s/ pasti akan dipersepsi sebagai beng dan is, tidak mungkin be dan ngis.

      ALAT-ALAT DAN BUNYI UJARAN.
Sumber dari bunyi adalah paru-paru. Paru-paru kita berkembang dan berkempis untuk menyedotkan dan mengeluarkan udara.Melalui saluran ditenggorokan, udara ini keluar melalui mulut atau hidung.Dalam perjalanan melewati mulut dan hidung ini ada kalanya udara itu dibendung oleh salah satu bagian dari mulut kita sebelum kemudian dilepaskan.Hasil bendungan udara inilah yang menghasilkan bunyi.
Alat-alat dan bunyi ujaran, adalah:
0.Bibir.
Bibir atas dan bibir bawah.kedua bibir ini dapat dirapatkan untuk membentuk bunyi yang dinamakan bilabial yang artinya dua bibir bertemu.
Contoh: bunyi P, B, dan M.
1.Gigi.
Untuk ujaran hanya gigi atas lah yang mempunyai peran.Gigi ini dapat berlekatan dengan bibir bawah untuk membentuk bunyi yang dinamakan dengan labiodental.
Contoh: untuk bunyi F dan V.
Gigi juga dapat berlekatan dengan ujung lidah untuk membentuk bunyi dental.contoh:Bunyi T dan D dalam bahasa indonesia.
2.Alveolar.
Menurut KBBI alveolar adalah rongga dalam rahang tempat akar gigi tertanam,daerah ini berada persis dibelakang pangkal gigi atas.Pada alveolar dapat ditempelkan ujung lidah untuk membentuk bunyi yang dinamakan bunyi alveolar.
Contoh: bunyi T dan D dalam bahasa ingris.
3.Palatal keras
Daerah ini ada di rongga atas mulut, persis dibelakang daerah alveolar.Pada daerah ini dapat ditempelkan bagian depan lidah untuk membentuk bunyi yang dinamakan alveopalatal.
Contoh: bunyi C dan J
4.Palatal lunak.
Bunyi yang dihasilkan dengan menempatkan bagian depan lidah didekat atau pada langit-langit,daerah ini dinamakan dengan velum, ada dibagian belakang rongga mulut atas. Pada palatal lunak dapat dilekatkan bagian belakang lidah untuk membentuk bunyi yang dinamakan velar.
Contoh: Bunyi K dan G.
5.Uvula.
Pada ujung rahang atas terdapat tulang lunak yang dinamakan uvula.uvula dapat digerakkan untuk menutup saluran ke hidung atau membukanya.Bila uvula tidak berlekatan dengan bagian atas laring maka bunyi udara keluar melalui hidung.Bunyi ini lah yang dinamakan dengan bunyi nasal.Jika uvula berlekatan dengan dinding laring maka udara disalurkan melalui mulut dan menghasilakan bunyi yang dinamakan dengan oral.
6.Lidah.
Pada rahang bawah , disamping bibir dan gigi, terdapat pula lidah.Lidah adalah bagian mulut yang fleksibel ia dapat digerakkan dengan lentur.
Lidah itu terdiri dari:
a. Ujung lidah, yaitu bagian yang paling depan dari lidah.
b. Mata lidah, yaitu berada persis dibelakang ujung lidah.
c. Depan lidah, yaitu bagian yang sedikit agak ketengah ttap masih tetap di depan.
d. Belakang ladah, yaitu bagian yang ada dibagian belakang dari lidah.
7.Pita suara.
Pita suara adalah sepasang selaput yang berada di jakun.Selaput ini dapat dirapatkan, dapat direnggangkan, dan dapat dibuka lebar.
8.Faring.
Adalah saluran udara menuju ke rongga mulut atau rongga hidung.
9.Rongga hidung.
Adalah rongga untuk bunyi-bunyi nasal, seperti M dan N.
10.Rongga mulut.
Adalah untuk bunyi-bunyi oral, seperti P, B, A, dan I

2 komentar: